Senin, 30 September 2013

Pemikiran Genetik



Bismillaah

     Sejujurnya aku selalu bingung jika ada seseorang yang menceritakan masalah perasaannya terhadap lawan jenis padaku, ditambah jika menceritakannya sembari menangis. Sayang, air matamu terlalu berharga untuk dibuang sia-sia, hanya untuk menangisi si “dia” yang belum tentu menjadi jodohmu kelak.
      Teteh.. teteh.. aku pengen kaya teteh, aku engga pernah ngeliat teteh galau masalah beginian, ngeliat teteh galaunya jurnal laporan mulu, celetuk adik junior di kosan ditengah-tengah curhatnya.
    Dalam kehidupan sehari-hari, air mata merupakan zat ekskresi yang tidak satu orang pun jijik melihatnya, bahkan mungkin beberapa orang akan iba melihat seseorang mengeluarkan air mata. Air mata itu sendiri terdiri dari tiga jenis, yaitu air mata basal, air mata refleks, dan air mata emosi. Ketiga jenis air mata tersebut mempunyai komponen yang berbeda-beda, dimana air mata emosi mempunyai komponen prolaktin lebih banyak dari kedua jenis air mata lainnya. Menurut Kazuo Murakami, Ph.D, keluarnya air mata ini pun dikendalikan oleh gen, dimana gen dapat mempengaruhi perasaan, dan gen pula dapat dikendalikan oleh pikiran, yang mana beliau sebut “Pemikiran Genetik.”
       Seseorang yang menangis yang katanya karena cinta, jenis air mata yang dikeluarkannya yakni air mata emosi. Karena banyaknya prolaktin yang dikandung, maka ketika seseorang mengeluarkan air mata ini, hatinya akan lebih tenang. Kebanyakan orang sering mengatakan “Menangislah, jangan ditahan. Menangislah, karena menangis dapat membuatmu lebih tenang.”
      Duhai diri, alangkah indahnya jika air mata emosi ini dikeluarkan ketika mendengarkan ayat-ayat-Nya, berharap hati dan jiwa akan semakin lembut. Alangkah indahnya jika air mata emosi ini dikeluarkan saat melihat dan mendengar berita bahwa orang-orang muslim di negeri sana, sedang terancam pembunuhan besar-besaran, dibom, gencatan senjata, dll, agar hati semakin lebih peka. Alangkah indahnya..
     Kebanyakan orang galau yang katanya karena cinta itu obatnya ngedengerin musik. Yakin musik bisa menenangkan? Bukankah ketika mendengarkan musik, pikiran dan perasaan kita dibawa melayang oleh kenangan?

     Rasa suka, kagum, cinta itu wajar, karena mereka fitrah manusia. Tetapi bagaimana cara kita untuk memenejnya yang perlu ditekankan.
     Hayu kita sama-sama belajar, mungkin dulu aku pun sama seperti kamu. Seberapa besar usaha kita, maka seberapa besar itu pula hasil yang akan kita dapatkan. Saling mengingatkan dalam kebaikan ^^

Allahu a'lam


1 komentar: