Rabu, 13 November 2013

Lebih Baik kah?




Bismillaah..

Perkataan seorang teman siang itu..
“ih aku mah engga suka sama ibu dosen itu, jilbab gede tapi omongannya jleb banget”
Mendengar ia berkata demikian, rasanya jleb banget, perasaan remuk seketika. Sifat orangnya yang engga disukai kenapa jilbabnya yang dibawa-bawa -_-
“masih mending aku yang pakeannya kaya gini, wajar kalau kelakuannya engga baik juga. Daripada ibu itu, jilbab gede tetep aja judes.” Ucapnya menambahkan.

Ijinkan aku berkomentar disini..
Menurutku tak ada kata “mending-mendingan”. Jilbab syar’i itu perintah dari Allah, tak peduli bagaimana pun sifat orang yang menggunakannya, hukumnya wajib. Mungkin aku pun pernah berpikiran sama seperti kamu mengenai akhwat-akhwat yang jilbabnya gede tapi sifatnya keras. Tapi aku sadar pikiran seperti itu tidaklah benar. Tidak menyukai sifat jelek seseorang tak perlu bawa-bawa jilbabnya.
   Jika kamu merasa mendingan kamu daripada ibu itu, berarti kamu merasa lebih baik dari orang lain. Bukan kah sikap seperti itu menunjukkan kesombongan? dan bukan kah kesombongan itu hanya milik Allah? Dan kamu tau kan ganjaran bagi orang yang sombong?
   Kalau mau mending-mendingan, menurutku lebih baik ibu itu. Kenapa? Karena ibu itu telah berusaha menjalankan kewajiban dari Allah, walaupun sifatnya seperti itu. Setidaknya beliau punya nilai plus. Nah kalau kamu yang jilbabnya belum syar’i, ditambah kelakuannya engga baik, mendingnya dimana?

Hayu kita sama-sama ubah pola pikir kita. Daripada menemukan kejelekan orang lain lalu dibandingkan dengan diri kita, lebih baik kita berusaha mencari kejelekan diri sendiri, lalu berusaha merubahnya menjadi lebih baik.

Allahua’lam..

Senin, 04 November 2013

Istirahatlah dengan Shalat



Bismillaah..

-Muhasabah diri

Jenuh. Satu kata yang menggelayut di pikiran saat ini. Jenuh dengan segala rutinitas. Akan kah diri selalu sibuk dengan aktivitas yang sifatnya keduniawian, sedang untuk akhirat diri lalai terhadapnya? -_-
Apa kabar jiwa? Akan kah dirimu merasa nyaman dengan kemalasan, hingga menuntut raga untuk terus dalam zona ini. Bukan kah para salafush shalih ketika lelah dengan segala rutinitas kesibukan, mereka selalu meminta diistirahatkan dengan Shalat? “Ya Rasul, istirahatkanlah kami dengan shalat.”
Wahai diri apa yang sedang kamu lakukan, berkubang dalam kemalasan, berdalih untuk istirahat sejenak?
Jenuh itu wajar, tapi yang engkau lakukan bukanlah sebuah kewajaran. Ketika jenuh melanda, maka beristirahatlah, tak ada yang melarang. Istirahatkanlah engkau dengan shalat..

Rabu, 23 Oktober 2013

Karena Cinta



Bismillaah..

Topik siang itu kembali membicarakan orang-orang hebat, agar diri selalu termotivasi dan merasa tak ada apa-apanya.
Teh, teh aku baca tulisan di web ITB. Di situ ditulis tentang profil Mahasiswa ITB yang pertama memperoleh Ph.D Award. Hebat yah.. ceritaku penuh semangat.
Terus dia bilang di tulisannya, kuliah itu bukan melulu belajar, belajar, dan belajar. Organisasi itu perlu.. ucapku melanjutkan cerita.
Iya yah nif, hebat euy. Padahal waktu yang Allah kasih sama, 24 jam sehari.. Respon temanku sambil mengkerutkan dahi.
Iya teh aku juga heran :(
Orang-orang hebat biasanya 1 motivasi, 99 aksi nif. Kita itu terlalu santai untuk jadi nomer satu -_-
Iya teh, tapi aku bingung harus mulainya dari mana ya? Hehehe. Soalnya sepupu aku pernah bilang, dhan kamu teh cewe, kamu lebih banyak punya waktu di rumah. Aku aja cowo bisa, aku seringnya main PS, aku juga suka futsal, tapi satu, aku engga pernah lupa belajar.
Iya nif dulu juga aku suka belajar, soalnya suka banget sama geografi, baca buku engga cukup 1. Tapi yah berhubung takdir masukin aku nya ke biologi, jadi harus belajar dari awal soalnya nge-blank banget.
Hahaha mendinglah dulu suka belajar, aku mah boro-boro :D

Dari perkataan temanku ternyata mengandung jawaban untuk pertanyaan dalam hatiku. Kenapa mereka bisa hebat? Karena mereka belajar dengan cinta. Karena cinta menjadikan belajar adalah suatu hal yang menyenangkan dan bukan beban. Jika merasa salah jurusan gimana? Paksa aja. Karena cinta pun akan tumbuh karena paksaan, sedikit demi sedikit. #menaehati diri sendiri.

Aku pun sama, terkadang merasa salah jurusan, karena aku baru tau kemampuanku dimana setelah masuk kuliah ini. Tapi takdir Allah sungguh indah. Allah menyuruh kita untuk membuka mata, membaca berbagai hal tentang makhluk hidup, membaca alam dan kehidupan, membaca ayat-ayat kauniyah-Nya yang ini. Iqro’ bismirobbikalladzii kholaq.. *bacalah dengan menyebut nama Tuhan-mu yang Menciptakan. Bukankah kita sering terkagum-kagum ketika dosen menjelaskan tentang ciptaan-Nya? Tanpa kita sadari, cinta itu sebetulnya telah tumbuh, namun kita kurang merespon cinta tersebut untuk berjalan beriringan. Mungkin, hehehe..

Hayu sama-sama saling belajar dan terus saling mengingatkan ^^

Laa haula wa laa quwwata illa billaah..
Allahua’lam bish showab..

Senin, 30 September 2013

Pemikiran Genetik



Bismillaah

     Sejujurnya aku selalu bingung jika ada seseorang yang menceritakan masalah perasaannya terhadap lawan jenis padaku, ditambah jika menceritakannya sembari menangis. Sayang, air matamu terlalu berharga untuk dibuang sia-sia, hanya untuk menangisi si “dia” yang belum tentu menjadi jodohmu kelak.
      Teteh.. teteh.. aku pengen kaya teteh, aku engga pernah ngeliat teteh galau masalah beginian, ngeliat teteh galaunya jurnal laporan mulu, celetuk adik junior di kosan ditengah-tengah curhatnya.
    Dalam kehidupan sehari-hari, air mata merupakan zat ekskresi yang tidak satu orang pun jijik melihatnya, bahkan mungkin beberapa orang akan iba melihat seseorang mengeluarkan air mata. Air mata itu sendiri terdiri dari tiga jenis, yaitu air mata basal, air mata refleks, dan air mata emosi. Ketiga jenis air mata tersebut mempunyai komponen yang berbeda-beda, dimana air mata emosi mempunyai komponen prolaktin lebih banyak dari kedua jenis air mata lainnya. Menurut Kazuo Murakami, Ph.D, keluarnya air mata ini pun dikendalikan oleh gen, dimana gen dapat mempengaruhi perasaan, dan gen pula dapat dikendalikan oleh pikiran, yang mana beliau sebut “Pemikiran Genetik.”
       Seseorang yang menangis yang katanya karena cinta, jenis air mata yang dikeluarkannya yakni air mata emosi. Karena banyaknya prolaktin yang dikandung, maka ketika seseorang mengeluarkan air mata ini, hatinya akan lebih tenang. Kebanyakan orang sering mengatakan “Menangislah, jangan ditahan. Menangislah, karena menangis dapat membuatmu lebih tenang.”
      Duhai diri, alangkah indahnya jika air mata emosi ini dikeluarkan ketika mendengarkan ayat-ayat-Nya, berharap hati dan jiwa akan semakin lembut. Alangkah indahnya jika air mata emosi ini dikeluarkan saat melihat dan mendengar berita bahwa orang-orang muslim di negeri sana, sedang terancam pembunuhan besar-besaran, dibom, gencatan senjata, dll, agar hati semakin lebih peka. Alangkah indahnya..
     Kebanyakan orang galau yang katanya karena cinta itu obatnya ngedengerin musik. Yakin musik bisa menenangkan? Bukankah ketika mendengarkan musik, pikiran dan perasaan kita dibawa melayang oleh kenangan?

     Rasa suka, kagum, cinta itu wajar, karena mereka fitrah manusia. Tetapi bagaimana cara kita untuk memenejnya yang perlu ditekankan.
     Hayu kita sama-sama belajar, mungkin dulu aku pun sama seperti kamu. Seberapa besar usaha kita, maka seberapa besar itu pula hasil yang akan kita dapatkan. Saling mengingatkan dalam kebaikan ^^

Allahu a'lam